Breaking

Selasa, 20 Oktober 2026

Pentingnya Parenting Anak di Era Gadget dan Media Sosial

Pentingnya Parenting Anak di Era Gadget dan Media Sosial

Digitalisasi membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, termasuk bagi anak-anak. Sekarang, bergaul tidak harus bertemu secara fisik; media online membuat anak bisa berinteraksi dengan siapa saja secara lebih luas. 

Dulu, untuk menjaga penglihatan dan pendengaran anak, orang tua cukup membatasi anak untuk keluar rumah. Namun, kini, menonton dan mendengarkan berbagai hal pun cukup dilakukan dari balik layar. Permainan fisik yang dulu kita kenal, kini sudah banyak beralih ke dalam gadget dengan variasi yang jauh lebih menarik. 

Perkembangan teknologi saat ini tentu menjadi tantangan besar bagi para orang tua. Pengawasan dan perhatian ekstra sangat dibutuhkan agar anak tidak terjerumus dalam pengaruh negatif dunia digital dan tetap tumbuh dengan karakter yang baik.

Dari sudut pandang kedokteran, penggunaan gadget pada anak secara berlebihan dapat memicu keterlambatan bicara, gangguan kesehatan mental, dan penurunan konsentrasi saat belajar. Oleh karena itu, orang tua harus menerapkan pola asuh (parenting) digital yang tegas melalui aturan durasi, batasan zona, dan pendampingan aktif guna menjaga tumbuh kembang anak. 

Perlu dipahami bersama bahwa gadget hanyalah alat yang menjadikan anak lebih mudah untuk bermain, berinteraksi dengan orang lain, serta melihat  dan mendengar banyak hal.  

Oleh karena itu, dalam pandangan Islam, parenting anak di era gadget tidak terlepas dari tugas orang tua untuk melindungi anak dari teman, tontonan, dan permainan yang tidak baik serta dapat merusak moral. 

Dalam tulisan ini, kami mengulas pandangan ulama terkait parenting anak dari dua sudut pandang. Pertama, gadget adalah alat bermain, dan kedua, adalah alat untuk berinteraksi dengan orang lain melalui media sosial.  

Perbedaan Ulama dalam Membatasi Bermain Anak 

Menurut panduan American Academy of Pediatrics (AAP), anak di bawah usia 18 bulan sebaiknya sama sekali tidak terpapar layar. Sementara itu, anak usia 2 hingga 5 tahun hanya diperbolehkan mengakses gawai maksimal 1 jam per hari, dengan catatan harus didampingi orang tua dan mengonsumsi konten berkualitas.

Terkait kepemilikan gawai pribadi, usia ideal yang disarankan oleh mayoritas studi dan organisasi kesehatan adalah 12–14 tahun. Memberikan gawai sebelum usia tersebut berpotensi meningkatkan risiko masalah tidur, kecemasan sosial, dan gangguan konsentrasi pada anak.  

Batasan durasi penggunaan gawai untuk hiburan diatur berdasarkan kelompok usia, yaitu maksimal 1 jam per hari untuk usia 2–5 tahun, dan maksimal 2 jam per hari untuk usia 6–12 tahun. Untuk usia remaja, durasi waktu layar lebih fleksibel, tetapi tetap harus dibatasi. Pembatasan ini sangat penting karena studi dalam JAMA Pediatrics (2024) membuktikan bahwa paparan layar lebih dari 2 jam per hari pada anak usia sekolah dapat menurunkan kualitas tidur serta performa akademik mereka.

Selengkapnya di NU Online

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox